Pages

Monday, August 1

Entahlah

Aku pikir jatuh cinta itu gampang, semudah ucapan ketika ada pertautan rasa. Tapi ternyata tidak semudah itu. Aku tertarik denganmu karena aku tak tahu pasti apa sebabnya, bukan juga karena keharusan atau tuntutan lingkungan untuk melakukan hal seperti itu.
Aku pun tak tahu kapan dan bagaimana kata “pacar” itu mulai muncul dan dipergunakan. Semua keputusan mempunyai resikonya tersendiri, entah ditolak, diacuhkan, memalukan atau dianggap tak berkenan di mata orang lain. Sedangkan jarak menjadi salah satu aral dari aral-aral lainnya. Pun aku pernah berujar tidak menyukaimu karena masalah usia, tapi hanya dalam ucapan saja. Dan ucapan itu menjadi bertentangan antara rasa dan kata-kata.

Untuk serius mungkin harus menjalani semacam masa yang di dalamnya mengikuti kewajaran umum dimana dua orang saling mengungkap perasaan masing-masing. Kejujuran menjadi ketakutan asing bagiku dalam memperkirakan jawaban yang akan terucap. Bagiku melindungi ketenangan rasa dan tanpa harus tergesa mengucap beberapa bentuk perasaan mungkin dapat membantu penerimaan.

Syarat informal lain yang tersirat adalah pemikiran lain, tentu karena ada realitas antara aku dan kamu. Disamping itu aku adalah lelaki yang masih tertatih saat menghadapi gunjingan tuntutan. Mungkin tak mudah untuk membuatmu mengerti maksud tulisan ini, karena aku sendiri pun tak punya kejelasan . Mungkin juga nampak bodoh karena aku harus menyukaimu, kenyataan seperti tak mengijinkan suatu tindakan untuk kepastian hubungan tersebut, sebab aku juga tak ingin dirimu terasa terganggu atas diriku. Di usiamu yang sewajarnya harus belajar, tak pantas rasanya mengatakan hal ini padamu (semoga kau punya cukup kelupaan yang dapat membantu ) hehehe

Belum jika masyarakat mendengarnya. Apakah aku harus mengemis pada Tuhan atas kenyataan ini ? ( maaf, agak angkuh ). Aku tidak bermaksud sombong dengan pertanyaan itu, terlebih karena doa dan usaha mempunyai strukturnya sendiri dalam hal keberuntungan masing-masing pribadi. Sedangkan aku malah senang jika menghadapi kenyataan “ditolak” olehmu. Dan kemudian dua, tiga atau empat kesempatan akan aku coba lagi dengan selang waktunya masing-masing jika memang harus sesulit itu.( seperti keteguhanmu kan ? ).

Dan jika akhirnya harus mendengar jawabanmu bahwa kamu memang benar-benar tidak ingin, aku meminta dengan hormat sedikit penjelasanmu sejujurnya. Setelah itu jelas, aku akan berhenti kemudian kita akan kembali pada hubungan seperti biasanya. Pernah aku seperti paranoid, ketika gejolak perasaan melanda. Memang tidak mudah, tapi kejujuran adalah bahasa baik untuk sebuah penjelasan.

No comments:

Post a Comment